Showing posts with label MENCIPTAKAN SURGA DI DUNIA : 1. Mengendalikan Diri. Show all posts
Showing posts with label MENCIPTAKAN SURGA DI DUNIA : 1. Mengendalikan Diri. Show all posts

Sunday, July 18, 2010

1. MENGENDARIKAN DIRI

Sebelum membicarakan pikiran yang positif, maka kunci untuk menciptakan surga di dunia ini adalah pengendalian diri. Komponen yang membentuk dunia yang kita kenal sekarang ini adalah 5 panca indera ditambah pikiran dan kesadaran.
5 panca indera adalah:
Φ Mata untuk melihat bentuk
Φ Hidung untuk mencium bau
Φ Telinga untuk mendengar suara
Φ Lidah untuk rasa
Φ Tubuh / kulit untuk sentuhan

Dari Panca indera ini pikiran mendapatkan getaran-getaran dari luar yang akan di respon dengan perintah untuk tindakan-tindakan.
Panca indera adalah gerbang dari sagala nafsu keinginan, sedangkan pikiran dan kesadaran adalah sumber dari segala nafsu dan penderitaan. Dari hasil pengolahan data-data yang dikirim oleh panca indera, maka timbullah nafsu dan keinginan. Nafsu untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan keinginan untuk mendapatkan lebih dan mempertahankan keadaan yang ada.
Sang Buddha mengatakan orang biasa akan dihanguskan oleh sebelas macam api yang merusak; yakni keserakahan, kebodohan dan keras kepala, kebencian dan ketidakpuasan, usia dan kematian, penyakit, duka cita, penyesalan, depresi, kesedihan dan penderitaan akibat bermacam-macam penyakit mental dan fisik.
Kesemua penderitaan tersebut ditimbulkan oleh pikiran kita sendiri. Karenanya adalah penting untuk mengendalikan diri, mengendalikan diri artinya mengendalikan 5 panca indera dan pikiran / kesadaran. Dengan mengendalikan 5 panca indera, maka getaran-getaran kenikmatan dan ketidak-nikmatan berkurang masuk ke ruang pikiran / kesadaran. Dengan demikian mengurangi beban kerja pikiran / kesadaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjaga agar panca indera ini tidak terlarut dan lepas kendali terhadap kenikmatan dan ketidak-nikmatan, sedangkan pikiran dan kesadaran harus dijaga dan dimurnikan setiap saat. Nafsu hanya membawa sedikit kegembiraan dan banyak penderitaan. Dengan adanya pengendalian diri, maka secara otomatis nafsu kita juga dapat dikendalikan. "Seandainya ada gunung terbuat dari emas, dua kali lipatpun tidak akan cukup untuk memuaskan keserakahan satu orang manusia. Pahamilah hal itu dan hiduplah yang pantas".(Samyutta Nikaya 1,117)
Bagaimana dengan pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari? Dalam kehidupan sebagai umat awam, kita banyak menghadapi kendala-kendala, tentang ketidak-tahuan dan ketidak-mengertian kita akan arti hidup ini. Kita bukannya tidak boleh mempunyai keinginan, tetapi kita harus mengendalikan nafsu dan keinginan kita, seperti seorang kusir mengendalikan kereta kudanya.
Hidup haruslah dibuat tidak berlebihan, makan tidak berlebihan, melihat tidak berlebihan, mendengar tidak berlebihan, berbicara tidak berlebihan, merasakan tidak berlebihan, mencium bau tidak berlebihan, kita tidak tunduk pada panca indera ini, kita dapat mengendalikannya, kita dapat melihat semuanya dengan hati dan pikiran sadar. Kita makan tujuannya agar dapat bertahan hidup, bukan hidup untuk makan. Dalam setiap tindakan, utamakan kesederhanaan, keprihatinan. Penulis sendiri walaupun mampu untuk makan apapun, tetapi mengendalikan diri dengan 5 hari bervegetarian (Senin s/d Jum'at) termasuk hari Uposatha dan hari besar agama.
Dengan Dharma saya mengendalikan diri dari keserakahan akan nafsu kenikmatan makanan. Melihat janganlah berlebihan, lihatlah apa yang sewajarnya kita lihat, melihat wanita cantik siapa yang tidak tertarik, tetapi lihatlah secara wajar, tanpa terikat akan nafsu, tanpa keinginan untuk memiliki. Dan begitu wanita itu lewat, maka lenyaplah banyangan tersebut. Melihatlah obyek-obyek yang baik yang dapat membawa kemajuan batin, sebaliknya jauhkanlah obyek penglihatan yang dapat membawa kemerosotan batin antara lain gambar-gambar porno, buku-buku cabul dan bacaan-bacaan yang tidak membawa kemajuan batin. Penulis belajar Dharma dengan banyak membaca buku-buku Dharma, sehingga dapat membawa kemajuan batin.
Mendengar, dengarlah yang baik, jauhkanlah pendengaran yang dapat membawa kemerosotan batin. Jauhkanlah pendengaran akan gosip-gosip dan keburukan orang lain. Mulut berbicaralah yang baik, berikanlah pujian dan jauhkanlah ucapan yang menyakitkan. Berbicaralah seperlunya, lebih baik satu tindakan nyata daripada seribu pembicaraan yang tidak memberikan manfaat. "Jadikanlah hari-harimu produktif, apakah sedikit atau banyak. Karena setiap siang atau malam yang berlalu, hidupmu berkurang sebanyak itu". (Theragatha 451)
"Meskipun kita telah membaca seribu ayat dan dari naskah keagamaan, mungkin kita tidak mengerti artinya sama sekali, untuk mencapai tujuan memurnikan diri sendiri adalah lebih baik dengan jalan mengerti hanya satu ayat dan melaksanakannya".
Merasakanlah yang sewajarnya. Kita dapat hidup dengan baik, mempunyai tempat tidur empuk, mempunyai kendaraan bagus, rumah mewah, tetapi kita tidak terikat kepada semuanya. Kita merasakan kenikmatan yang sewajarnya. Jangan kalau tidak ada AC (Air Conditioner), atau tidur ditempat lain yang tidak seempuk di rumah, kita marah, jalani saja hidup ini dengan sewajarnya.
Kehidupan akan bahagia apabila kita jalankan sewajarnya, tidak berlebihan tidak berkekurangan, konsep jalan tengah yang Sang Buddha ajarkan juga menyangkut kehidupan ini bagi umat awam. Hiduplah saat ini, kewajaran tersebut artinya menerima dengan apa adanya, kalau biasa kita naik mobil mercy, sesekali naik bemo atau becak juga tidak menjadi masalah.
Hampir semua umat awam, tidak menyadari prinsip hidup saat ini, mereka tenggelam dalam permainan nafsu indera dan pikiran yang tidak terkendalikan. Dalam praktek sehari-hari, kita menjalani kehidupan ini penuh dengan khayalan dan tidak konsentrasi.
Sewaktu kita makan, pikiran kita melayang tidak terkendali, samapi makanan selesai dimakan, kita tidak tahu apa yang kita makan. Manusia melakukan ini dan itu tetapi mereka tidak sadar dan waspada, mereka dipermainkan oleh pikiran yang tidak terkendali seperti roda pedati yang terus berputar. Manusia, selama hampir seperempat hidupnya bekerja untuk mendapat pekerjaan (melalui sekolah dan pendidikan), seperempat abad hidupnya untuk mengumpulkan kekayaan, seperempat hidupnya untuk tidur dan seperempat abad berikutnya mereka menuju kematian tanpa mengetahui untuk apa mereka sebenarnya hidup.
Mengendalikan pikiran berarti hidup pada saat ini, gaya hidup manusia modern hidup demikian sibuknya, mereka digilakan oleh segala macam nafsu dan keinginan, mereke berjalan terus tetapi tidak tahu kemana tujuannya. Mereka yang dapat hidup saat ini, yang tidak meramalkan masa depan dan menyesali masa lalu, berkonsentrasi penuh pada keadaan yang sedang kita hadapi, kalau kita bisa menjaga dan merasakan kaki kita tetap menginjak tanah, maka secara alamiah kita akan memiliki kesehatan phisik dan mental yang baik, dan kita dapat hidup dengan sewajarnya dan penuh kedamaian.
Dengan pengendalian pikiran dari panca indera kita menciptakan dunia ini penuh kedamaian dan keindahan seperti di surga. Katakanlah kita sekarang sudah dapat hidup sewajarnya, ke lima panca indera kita sudah dapat hidup tanpa berlebihan, apakah pikiran kita sudah otomatis dapat dikendalikan, dapat baik? Secara jujur, dapat dikatakan bahwa pikiran belumlah sepenuhnya terkendali, pengendalian ke lima panca indera memang memberikan masukan efek negatif yang berkurang kepada pikiran dan kesadaran kita, namun tidak sepenuhnya pikiran dan kesadaran tersebut terkendali.
Pikiran dan kesadaran perlu dimurnikan, dilatih agar tetap konsisten dan tidak melayang kemana-mana. Pikiran seperti kuda liar, yang walaupun sudah ditangkap tetapi melonjak-lonjak untuk melepaskan diri. Cara mengendalikan pikiran dan kesadaran adalah dengan berlatih meditasi. Duduklah diam 20 menit setiap hari, dan kita akan mampu melihat diri kita lebih jelas dan terang, kita akan mampu berkata "Oh ini pikiran yang liar itu".
Kita mampu menangkapnya, paling tidak menyadari diri kita dan menyadari pikiran dan kesadaran itu sendiri. Meditasi adalah cara agar kita dapat memurnikan pikiran kita. Masalah waktu memang menjadi kendala bagi sebagian umat awam, tetapi alasan tiada waktu adalah alasan klasik untuk kemalasan. Untuk 20 menit bagi pemurnian pikiran dibandingkan 24 jam untuk memanjakan dan mengikuti pikiran yang liar, suatu perbandingan yang tidak memadai ! Saya harus melatih meditasi, suatu keputusan yang tidak perlu lagi untuk dipertimbangkan dan dijadikan alasan. Laksanakan sekarang, duduklah dan diam, perhatikan nafas keluar masuk, perhatikan dengan konsentrasi (sati), jangan bergerak walau ada kejadian apapun. Kejadian dapat menunggu selesainya anda bermeditasi. Pelajari buku-buku meditasi, dan praktekkanlah, sekarang kita berbicara dengan diri kita sendiri. "Ok, Saya perlu 20 menit minimum dari waktu 24 jam, jangan ganggu saya". Percayalah, setelah melaksanakan dengan penuh ketekunan, pengendalian panca indera dan meditasi, akan membuat anda lahir sebagai manusia baru, di dunia ini, di surga ini, tempat hidup ini indah dan penuh arti.

.